Penangkapan Ustadz Ba’asyir dan Kehancuran NKRI

13 Agustus 2010 Tinggalkan Komentar

Bulan Ramadhan 1431 H ini, kaum Muslimin Indonesia diberi “hadiah istimewa” oleh Pemerintah SBY. Kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di pasaran, teror bom gas 3 kg yang terus makan korban, dan satu lagi yaitu penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan sejumlah pemuda-pemuda Muslim yang dituduh melakukan terorisme. Senin, 9 Agustus 2010, sekitar dini hari, rombongan Ustadz Ba’asyir ditangkap Densus88 di Banjar.

Kalau setiap hari kita mengikuti omongan seputar terorisme yang keluar dari lidah Ansyad Mbai, Edward Aritonang, Bambang Hendarso, Suryadarma Nasution, Abdurrahman Assegaf, Nashir Abbas, dll. tentu kita akan meyakini, bahwa Ustadz Ba’asyir dan kawan-kawan adalah teroris; teroris ingin menghancurkan NKRI; teroris adalah musuh negara;  teroris harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Kebanyakan orang awam percaya dengan opini-opini media yang dibuat-buat seperti ini.

Karena Lemah, Ummat Selalu Jadi Bulan-bulanan Aparat

Tetapi kalau kita kritis, bijaksana, dan mendalam ilmunya, kita pasti akan sangat sedih dengan penangkapan Ustadz Ba’asyir itu. Penangkapan tersebut akibatnya sangat berat bagi kehidupan bangsa Indonesia, bahkan bagi keutuhan NKRI sendiri. Kalau Anda memahami, penangkapan seperti itu justru akan menghancurkan bangsa kita sendiri.

Lho, kok bisa sih? Apa alasannya? Yang bener saja, masak penangkapan Ustadz Ba’asyir akan menghancurkan NKRI? Jangan-jangan, ini mengada-ada?

Benar, sungguh benar. Argumentasi pendapat di atas ada dan kuat. Hanya kita selama ini tidak memahami, maka kita hanya ikut-ikutan saja opini dan kebijakan yang ditempuh Polri. Sungguh, langkah-langkah Polri ini sangat cepat akibatnya dalam memporak-porandakan kesatuan NKRI.

Apa dong argumentasinya?

SATU: Polri selama ini mengklaim sedang memerangi terorisme, tetapi tanpa disadari cara-cara mereka justru melahirkan TERORISME baru yang sangat melemahkan kehidupan masyarakat. Polri selama ini telah melakukan 3 TEROR sekaligus: teror hukum, teror opini, dan teror psikologi masyarakat.

Coba saja Anda lihat, berapa banyak pemuda-pemuda Islam dibunuhi, ditembaki, dikepung, disiksa, dan seterusnya. Polri ingin menegakkan hukum, dengan cara melanggar hukum. Tidak ada pengadilan, tidak ada kebebasan membela diri, tidak ada transparansi, dll. Kemudian, dalam kasus terorisme ini hanya berlaku satu opini saja, yaitu opini Polri. Tidak ada opini dari tim idependen, tidak ada opini dari anggota DPR, tidak ada opini dari jurnalis, tidak ada opini dari Komnas HAM, tidak ada opini dari perwakilan Muslim, dst. Opini hanya dari polisi saja. Maka tidak salah kalau mereka dianggap menterorkan opininya ke kepala ratusan juta rakyat Indonesia, dan dunia internasional.

Semua kasus-kasus terorisme ini bukan membuat masyarakat semakin tentram, justru sebaliknya. Ketakutan, khawatir, cemas, depressi melanda dimana-mana. Inilah teror psikologi bagi masyarakat luas.

DUA, hampir semua kejadian terorisme di Indonesia sangat kuat aroma rekayasanya. Sampai ada yang mengatakan, kasus-kasus terorisme ini muncul ada jadwalnya. Bukti bahwa kasus-kasus terorisme ini hanya hasil rekayasa, ketika pengembangan isu terrisme dari satu kasus ke kasus lain cenderung sama. Modelnya sama. Mula-mula muncul kasus terorisme, lalu terjadi pengejaran, penangkapan, penggerebekan; lalu dibuat opini media secara intensif; dan herannya, ketika kasus-kasus terorisme ini dibawa ke ranah hukum, tiba-tiba kehilangan bobotnya. Seakan, Polri hanya membutuhkan kemenangan opini di tingkat media saja, dengan tidak peduli kelanjutan kasus-kasus itu secara hukum. Desain seperti ini diulang-ulang sejak jaman Imam Samudra sampai Ustadz Ba’asyir saat ini.

TIGA, fenomena terorisme di Indonesia, rata-rata dikembangkan berdasarkan tekanan asing. Bukti paling mudah untuk disebut, ketika SBY mengumumkan kematian Dul Matin di depan Parlemen Australia, lalu dia mendapat tepuk-tangan sangat meriah. Kalau SBY seorang pemimpin yang nasionalis dan punya harga diri, pasti akan malu mengumumkan aib rakyatnya sendiri di depan parlemen orang asing, di negeri mereka pula. Kesan yang bisa ditangkap disana, SBY seperti “sedang memberi laporan” kepada Australia.

EMPAT, Polri selama ini telah melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pasti sangat meresahkan masyarakat luas. Bayangkan, pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu ditembaki, disergap, dibunuh, ditangkap paksa, disiksa, dll. tanpa melalui mekanisme hukum yang wajar. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, bahwa para aparat hukum yang mengadili pelaku-pelaku yang dituduh teroris itu, mereka tidak suka dengan pembelaan dari Tim Pembela Muslim (TPM). Polri telah menyediakan pembela khusus untuk para terdakwa itu.

Kenyataan ini mencerminkan betapa bobrok-nya proses penegakan hukum. Seakan, aparat yang punya kekuatan bisa bersikap sewenang-wenang. Sementara rakyat yang tidak memiliki power, mereka menjadi bulan-bulanan. Nah, kenyataan seperti itu nanti bisa menimpa siapa saja. Siapapun yang terkena kasus hukum, bisa dimasukkan dalam mekanisme hukum yang sewenang-wenang ini. Bahkan bisa saja, seseorang dijebak agar terlibat dalam kasus tertentu, lalu diadili secara sewenang-wenang. Ini adalah mushibah hukum yang mengerikan.

LIMA, siapa bisa menjamin bahwa kasus terorisme ini akan berhenti sampai penangkapan Ustadz Ba’asyir? Siapa bisa menjamin, bahwa setelah itu tak ada kasus terorisme lagi? Bukankah Polri selalu memiliki DPO yang memperpanjang usia pengembangan isu terorisme ini? Tidak pernah ada ceritanya, Polri merasa puas dan tuntas dalam menyelesaikan kasus-kasus terorisme. Selalu saja ada “pelaku-pelaku lain yang masih DPO”. Nah, pelaku-pelaku ini nanti akan “dikumpulkan” untuk membuat kasus terorisme baru. Artinya, masyarakat Indonesia siap-siap saja bersabar menghadapi semua cobaan ini. “Kesabaran kita masih panjang, kawan. Daftar DPO masih banyak!” Tidak heran jika sebagian orang menyebut kasus-kasus seperti ini sebagai “bisnis keamanan”.

ENAM, ketika rakyat Indonesia terus ribut dengan masalah terorisme, di bagian lain kekuatan ekonomi asing terus intensif mengeruk kekayaan nasional. Sambil terkekeh-kekeh mereka ketawa, “Hi hi hi…biarin saja mereka ribut terus soal teroris. Kita tenang-tenang saja mengeruk kekayaan negeri ini. Santai saja, man. Kita aman disini. Polisi Indonesia sangat berjasa mengamankan bisnis kita. Hi hi hi…”

TUJUH, isu terorisme kerap kali menjadi “jalan keluar” ketika Pemerintah sedang terpojok. Ratusan bom gas 3 kg terus meleduk, tarif listrik naik, harga-harga kebutuhan hidup semakin mencekik. Lahirnya isu terorisme sangat efektif membuat masyarakat lupa dengan tanggung-jawab Pemerintah.

DELAPAN, sangat jelas dan jelas sekali, semua kasus-kasus terorisme ini, beserta dampak ikutannya, akan sangat mencabik-cabik persatuan nasional. Muncul rasa marah, benci, dendam, saling curiga, antipati, serta permusuhan antar sesama anak bangsa. Hal itu adalah kenyataan yang jelas. Citra Polri di mata kalangan dakwah Islam jatuh sejatuh-jatuhnya. Bagaimana bangsa Indonesia bisa stabil melakukan pembangunan, jika dalam diri bangsa ini sendiri muncul bahaya laten permusuhan horisontal?

Katanya, Polri ingin menjaga keutuhan NKRI. Tetapi nyatanya mereka justru menyebarkan bara kebencian, permusuhan, dan antipati di tubuh masyarakat luas. Lebih menyedihkan lagi, ketika Polri terbukti tidak garang ketika menghadapi koruptor, pejabat nakal, skandal nasional, konglomerat hitam, bahkan kasus-kasus mafia hukum di tubuh Polri sendiri. Polri hanya keras kepada pemuda-pemuda Islam, bukan ke koruptor dan mafia. Semua ini jelas sangat membahayakan persatuan nasional (NKRI).

SEMBILAN, satu kesalahan yang sangat fatal ketika Polri memfitnah tokoh kebaikan seperti Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Ansyad Mbai mengatakan, 4 pemuda yang ditangkap di Bandung, ternyata terpengaruh ceramah-ceramah Ustadz Ba’asyir. Ini kan argumentasi yang sangat lucu. Jika demikian, mengapa wartawan-wartawan TV itu tidak ditangkap sekalian. Sebab mereka saban hari memprovokasi masyarakat dengan menyiarkan berita-berita kriminal. Harus dicatat, berita kriminal bisa menjadi inspirasi kejahatan juga.

Kalau di negara ini tokoh-tokoh yang baik dan konsisten dengan kebenaran, terus dihujani fitnah, lalu bagaimana bangsa ini akan selamat? Mereka akan dipimpin oleh orang-orang yang salah, zhalim, dan pendusta. Padahal kita tahu, orang-orang zhalim itu sangat egois, hanya memikirkan diri sendiri. Jika demikian, NKRI jelas akan hancur. NKRI ini akan dikelola oleh orang-orang yang salah.

SEPULUH, kalau masyarakat diam saja melihat kezhaliman yang dilakukan oleh Polri, para alim-ulama juga diam, partai-partai Islam juga diam, kaum terpelajar diam juga, sementara rakyat kecil juga ikut-ikutan diam; tahukah Anda apa akibatnya jika fenomena diam diri ini telah menguasai bangsa ini? Demi Allah, bangsa ini akan diadzab oleh Allah sekeras-kerasnya, karena telah berdiam diri melihat kezhaliman di depan matanya, secara kolektif. Dalam hadits shahih disebutkan firman Allah, “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, Aku menyatakan perang kepadanya.” Kalau Polri memusuhi wali-wali Allah, dan kaum Muslimin di negeri ini hanya diam saja, maka adzab itu akan menimpa kita. Dan Allah akan menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang istiqamah.

Terakhir, wahai bangsa Indonesia, aku ingin mengingatkanmu…

Ustadz Ba’asyir dan puluhan pemuda-pemuda Islam ditangkap karena terlibat TERORISME DI ACEH. Lalu kita mau bertanya, apakah ada kegiatan terorisme di Aceh? Apakah ada peledakan bom? Apakah ada penyerangan kantor-kantor polisi, atau kantor pemerintahan? Apakah ada korban sipil akibat serangan teroris itu?

Sungguh, kejadian di Aceh sangat berbeda dengan Ritz Carlton, JW. Marriot, Bom Bali, dll. Disana itu ada latihan-latihan kemiliteran puluhan pemuda. Mereka membawa senjata api dan sempat melakukan perlawanan ketika mereka diserang polisi. Dosa mereka secara hukum: membawa senjata api, melakukan latihan militer tanpa ijin, dan balas menyerang aparat ketika mereka disergap. Kesalahan-kesalahan seperti ini tidak seperti kasus terorisme yang sudah sering terjadi di Indonesia. Kalau ada ide ingin menyerang Presiden saat 17 Agustus, itu hanyalah klaim sepihak yang dibuat oleh Polri.

Apa yang terjadi di Aceh jauh dari kategori kejahatan terorisme yang kita kenal selama ini. Nah, mengapa kemudian pemuda-pemuda itu, bahkan Ustadz Ba’asyir dikait-kaitkan dengan perbuatan terorisme, dengan memakai UU terorisme? Coba saja Anda tanya diri sendiri: Siapa yang diteror oleh pemuda-pemuda itu? Mereka latihan di tengah hutan, jauh dari penduduk, tidak menyerang warga asing, tidak menyerang hotel, dll.

OK, kesalahan mereka karena menyimpan senjata api, melakukan latihan militer liar, dan menyerang aparat yang menyergap mereka; semua itu diadili secara hukum. Tetapi ia belum cukup diangkat sebagai kasus terorisme. Sangat berbeda antara latihan militer dengan pengeboman di JW. Marriot. Siswa-siwa bencong di acara Be A Man juga melakukan latihan-latihan militer. Ingat itu!

Ini tantangan besar bagi Muslimin Indonesia. Sanggupkah kita mengakhiri kezhaliman Polri terhadap seorang ustadz sepuh yang shalih? Kalau kita tak sanggup, persiapkan kesabaran Anda setebal-tebalnya. Ada bencana besar yang menghadang bangsa ini karena diam dirinya melihat kezhaliman.

Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

WASKITO.

source: http://abisyakir.wordpress.com/2010/08/10/penangkapan-ustadz-baasyir-dan-kehancuran-nkri

Categories: Kabar Berita

Ber-YM an 2 id 1 Komputer

23 Juli 2010 2 komentar

Walaupun sudah banyak artikel yang mengulas menggunakan 2 ID Yahoo Messenger dalam 1 komputer, tapi saya tetap mempublikasikanya untuk para netter yang masih pemula (seperti saya ini).  semoga bermanfaat artikel ini.

langkah-langkahnya sebagai berikut :

  1. clik start (pojok kiri bawa monitor anda) kemudian klik run
  2. Dalam kotak Run ketik regedit
  3. cari HKEY_CURRENT_USER/Software/Yahoo/Pager/Test (klik tanda + dimasing2 folder) lalu urutkan sesuai dengan perintah diatas
  4. di dalam folder Test klik kanan lalu pilih NEW kemudian pilih DWORD VALUE
  5. rename New Value #1 menjadi Plural
  6. kemudian klik 2 kali plural
  7. ganti angka 0 di value data menjadi 1
  8. lalu refresh

silakan buka account YM anda

ingat setelah anda loginYM pertama, dan ingin login dengan YM yang kedua buka lagi YM anda, dengan mengklik ganda YM baik yang ada di desktop maupun di menu program. kemudian drag YM pertama anda ke arah yang dikehendaki, karena YM yang kedua aktif berada di belakang YM yang pertama. kalau tidak di geser kelihatan hanya YM yang pertama saja.

terima kasih
semoga bermanfaat.

Categories: Belajar Komputer

INDOSAT MENGECEWAKAN !!

Capek deh !! bahasa anak muda sekarang, yang sedang di landa kekecewaan, dan dongkol terhadap suatu masalah. Begitu juga saya “Capek Deh” merasakan pelayanan Indosat yang kurang memuaskan. betapa tidak, sudah dua hari ini indosat mengalami masalah dalam jaringannya dan belum kunjung terlesaikan.

Konsumen merasa dirugikan dengan adanya masalahnya ini, kalau ini sering terjadi dan belum juga terselesaikan untuk beberapa hari kedepan, tidak  mustahil banyak konsumen indosat akan migrasi ke operator lain.

Apalagi perang tarif disemua operator sangat ketat, untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya. jadi pelayan yang terbaik lah yang akan menguasai pasar.

jadi Indosat segera tangani masalah jaringan anda, jangan sampai konsumen kecewa lantas kabur ke operator yang lain.

Categories: Coretan Hati

JIWAKU MEMANGGILKU

sebuah motivasi dan perenungan, semoga bermanfaat bagi semuanya.

sungguh merugilah kita kalau menjadi orang yang tidak mau merubah diri menjadi lebik baik dari apa yang telah dan sedang kita lakukan hari ini..

esok adalah ketidaktentuan maka berbuatlah yang terbaik hari ini, tulisan ini saya rangkum dari berbagai sumber yang menginspirasi saya untuk selalu mejadi lebih baik.

sebuah rangkaian kalimat yang penuh makna yang mendalam yang menyadarkan akan makna kehidupan.

jiwaku berkata padaku dan menasehatiku agar mencintai semua orang yang
membenciku, dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.

jiwaku berkata padaku dan mengungkapkan kepadaku bahwa cinta itu tidak hanya
menghargai orang yang mencintai, tetapi juga orang yang dicintai.

sejak itu bagiku cinta ibarat jaring laba-laba diantara dua bunga, dekat
satu sama lain; menjadi lingkaran cahaya tanpa awal dan tanpa akhir,
melingkari apa yang telah lahir dan memupuk selamanya untuk merengkuh yang
akan hadir.

jiwaku menasehatiku dan mengajariku agar melihat kecantikan yang ada dibalik
bentuk dan warna.

jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai
nampaklah keelokannya.

jiwaku menasehatiku dan menegurku agar menghargai waktu dengan mengatakan “
ada hari kemarin dan ada hari esok”.

demi masa sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.

jiwaku menasehatiku dan memintaku
agar tidak merasa mulia karena pujian
dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan karena cacian. sampai hari ini aku ragu akan harga pekerjaanku; tapi sekarang aku belajar

bahwa pohon berbunga di musim semi, dan berbuah di musim panas dan menggugurkan daun-daunnya di musim gugur untuk menjadi benar-benar telanjang di musim dingin? tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau malu

jiwaku menasehatiku dan meyakinkanku
bahwa aku tak lebih tinggi ketimbang cebol ataupun tak lebih rendah dari
raksasa.

sebelumnya aku melihat manusia ada dua:

satu: seorang yang lemah yang kucaci dan kukasihani
dua: seorang yang kuta yang kuikuti, maupun yang kulawan dengan pemberontakan.

tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah yang sama dari
mana semua manusia diciptakan.

jiwaku menasehatiku dan mengingatkanku:

bahwa aku adalah debu dimata Allah
bahwa aku adalah lemah dimataNYA
bahwa aku miskin dibanding kerajaan NYA
tiada aku boleh merasa besar kecuali olehNYA
kesombongan itu hanya milikNya
dan semua yang berlangsung adalah iradatNYA
tapi pernahkan kita pernah sungguh-sungguh memikirkannya?

fitnah yang terjadi mana-mana
bagai ular-ular tukang sihir fir’aun
menyebar di kota dan didesa-desa?
tercerai kita olehnya
tanpa kita sadar, tanpa kita kuasa
terbius kita oleh retorika tanpa makna
mengkotak kita dalam kebodohan yang terencana

jiwaku menasehatiku, saudaraku, dan menerangiku.
dan seringkali jiwamu menasehati dan menerangimu.
karena engkau sama seperti diriku, dan tiada beda diantara kita
kujaga apa yang kukatakan dalam diriku ini dalam kata-kata yang kudengar
dalam heningku.

dan engkau sahabatku jagalah apa yang ada dalam dirimu, dan engkau adalah
penjaga yang sama baiknya seperti banyak kukatakan ini.

wahai sahabatku semoga sisa hidupmu menjadi hidup yang penuh arti dan
bermanfaat? dan pintu hatimu terbuka untuk menerima cahayaNYA

Categories: Coretan Hati

Habib Rizieq Syihab: Ada Empat Kelompok yang Berkonspirasi Ingin Membubarkan FPI

Wawancara dengan Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab Seputar Konspirasi Jahat Pembubaran FPI

Sebagai salah satu kekuatan massa umat Islam Indonesia, Front Pembela Islam (FPI) yang beranggotakan 7 juta orang dianggap paling berbahaya bagi musuh-musuh Islam. Pasalnya, FPI dinilai paling keras dalam memberantas kemaksiyatan sebagai wujud dari pelaksanan amar makruf nahi mungkar di Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika mereka bersatu dan melakukan konspirasi dengan menghalalkan segala cara untuk membubarkan FPI.

Sejak tahun 2006, FPI berusaha diadu domba dan difitnah, agar pemerintah memiliki dalih untuk membubarkan FPI. FPI berusaha dibenturkan dengan Banser dan terakhir dengan Satgas PDIP. Namun perilaku jahat kelompok Liberalis itu selalu mengalami kegagalan. Terakhir pada peristiwa Banyuwangi (24/6) lalu, dimana FPI difitnah akan membubarkan sosialisasi kesehatan yang dilakukan tiga anggota DPR RI.

Berikut ini wawancara dengan Ketua Umum DPP FPI, Habib Rizieq Syihab, seputar konspirasi jahat untuk membubarkan FPI. Jika sampai berhasil, maka akan menjadi langkah awal untuk membubarkan ormas-ormas Islam di Indonesia yang dinilai keras menentang kezholiman dan ketidakadilan.
Apakah ada konspirasi untuk membubarkan Front Pembela Islam (FPI) pasca peristiwa Banyuwangi atau sebelumnya?

Sebetulnya konspirasi sejumlah pihak untuk pembubaran FPI sudah berlangsung sejak lama. Kita juga sudah mengidentifikasi pihak-pihak yang melakukan konspirasi untuk membubarkan FPI.

Pertama, kelompok mafia, yang memang selama ini FPI dianggap sebagai momok yang sangat menakutkan sekaligus menganggu bisnis haram mereka. Adapun yang saya maksud mafia disini, apakah mereka yang terlibat dalam sindikat narkoba, film-film porno, perjudian, pelacuran dan sebagainya. Ini semua sudah menjadi sindikat dan bukan kejahatan biasa, sementara FPI sejak lahir sangat concern dalam persoalan tersebut. FPI banyak mengungkap, menguak bahkan memejahijaukan mereka sehingga sudah jelas mana kelompok mafia ini menjadikan FPI sebagai musuh. Mereka mempunyai kepentingan untuk membubarkan FPI.

Kedua, yang masuk dalam konspirasi adalah kelompok liberal. Karena mereka melihat FPI secara fulgar melakukan konfrontasi terhadap gerakan-gerakan kaum liberal. Artinya FPI tidak lagi sembunyi-sembunyi bahkan perang pemikiran maupun perang di lapangan sekalipun. Karena kalau kita lihat peristiwa perjuangan RUU Pornografi dan Pornoaksi, bagaimana kelompok liberal memanfaatkan preman-preman untuk menyerang posko FPI di berbagai daerah. Jadi artinya mulai perang pemikiran sampai perang otot. Belakangan kita lihat banyak usaha kaum liberal yang kandas, apakah itu judicial review UU Pornografi, UU Penistaan Agama. Termasuk juga upaya mereka memanfaatkan Gus Dur untuk membatalkan TAP MPRS No XXV/MPRS/ 1966 soal PKI, tetapi kan usaha mereka kandas. Sebetulnya kandasnya mereka bukan hanya karena perjuangan FPI, tetapi semua ormas Islam. Cuma karena FPI dianggap terlalu fulgar, mungkin lebih meninjau atau mungkin konfrontasinya lebih terbuka, sehingga mereka melihat FPI sebagai musuh utama. Jadi kelompok liberal ini masuk dalam konspirasi tersebut.

Ketiga, kelompok Kristen radikal. Radikalisme ada di semua kelompok. Kelompok Kristen radikal mempunyai catatan tersendiri terhadap laskar-laskar Islam, mulai dari peristiwa Ambon hingga Poso. Dimana salah satu diantaranya adalah FPI. Ditambah lagi gerakan Kristen radikal ini yang mencoba mendirikan gereja-gereja liar di berbagai tempat. Jadi bukan geraja resmi yang mempunyai ijin resmi dan sesuai dengan peruntukannya, no problem. Markas FPI di Petamburan Jakarta Pusat ini sekitarnya ada 5 gereja, hubungannya dengan FPI saat ini baik-baik saja. Bahkan para pendetanya suka sowan kemari dan kita diskusi, no problem. Kenapa, karena gereja-gereja ini resmi punya ijin dan sesuai dengan peruntukannya. Sementara kalau ruko jadi gereja, kan lain cerita. Berarti peruntukannya untuk rumah tinggal dan toko, kok tiba-tiba berubah jadi gereja.

Sebetulnya penutupan gereja-gereja liar ini merupakan gerakan masyarakat, tetapi lagi-lagi FPI yang dituduh. Mungkin dalam gerakan tersebut ada warga FPI yang ikut bersama masyarakat. FPI kan sekarang dimana-mana ada, warganya juga dimana-mana ada. Tidak selalu perbuatan mereka mengatasnamakan organisasi FPI. Ada kalanya mereka bergerak atas nama organisasi tetapi ada kalanya atas nama masyarakat, jadi mereka tidak sendiri. Kalau mereka bersama masyarakat setempat, jangan salahkan FPI. Tetapi walau bagaimanapun juga, keterlibatan warga yang berafiliasi kepada FPI ini akhirnya membuat FPI terseret juga, Sehingga bagi kelompok Kristen radikal, FPI menjadi musuh utamanya. Jadi ada kelompok mafia yang merasa bisnis haramnya terganggu, ada kelompok liberal yang aqidah sesatnya juga terganggu dan ada kelompok Kristen radikal yang gerakan Kristenisasinya juga terganggu.

Keempat, adanya konspirasi politik. Kelompok-kelompok politik melihat banyak kepentingan politik mereka yang terganggu dengan gerakan-gerakan ormas Islam. Sekarang ada konspirasi, dimana kelompok politik ingin mengoalkan suatu UU, tiba-tiba UU ini berbenturan dengan Syariat Islam. Secara otomatis akan berhadapan dengan gerakan Islam dan salah satunya adalah FPI. Mungkin dimata mereka FPI dilihat terlalu fulgar melakukan konfrontasi, sehingga dianggap menganggu agenda politik mereka. Jadi konspirasi antara kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan politik. Mereka bersatu untuk menjadikan FPI sebagai musuh bersama.

Berarti mereka mencari momentum yang tepat untuk membubarkan FPI?

Akhirnya mereka mencoba mencari momentum untuk pembubaran FPI. Momentum apa saja yang mereka dapat, apakah momentum peristiwa Depok, dimana ada kontes waria yang dibubarkan warga yang didalamnya juga ada FPI. Bagaimana dengan peristiwa Bekasi, dimana ada patung yang dirubuhkan, walaupun sebetulnya yang merubuhkan patung adalah Walikota Bekasi, bukan FPI atas desakan masyarakat. Tetapi di media massa yang dituduh kan FPI.

Kenapa peristiwa Banyuwangi dianggap momentum, karena memang lebih dahsyat daripada Bekasi, Singkawang dan Depok. Persoalannya ada tiga anggota DPR RI yang katanya sedang melakuan kunjungan kerja. Artinya, kalau melibatkan anggota DPR RI berarti bersingungan dengan lembaga tinggi negara. Ini berarti bisa dikatakan subversib kalau membubarkan acara negara. Meraka lihat ini momentum penting untuk dibenturkan dengan berita FPI telah membubarkan kunjungan kerja anggota DPR RI dan FPI mengusir anggota DPR RI.

Peristiwa Banyuwangi mereka jadikan momentum untuk membubarkan FPI. Cuma mereka kecelek, mereka salah fakta, karena ternyata di Banyuwangi, subhanallah nasrullah. Tepatnya pada 25 April 2010 lalu, DPW FPI Banyuwangi dibekukan karena ada konflik internal diantara mereka yang terkait Pilkada. Kemudian sikap politik dari para pengurus FPI berbeda, yang membuat mereka ada sedikit konflik. Kemudian kita tugaskan Sekjen FPI untuk menyelesaikannya dan akhirnya disepakati supaya tidak ada fihak yang dimenangkan dan dikalahkan, maka dibekukan dulu. Berarti, kalau sudah dibekukan tidak boleh ada pergerakan apapun atas nama FPI. Tahu-tahu mereka mengkaitkannya dengan FPI, kan salah fakta dan mereka kecelek. Pada peristiwa ini kan tidak ada yang memakai seragam FPI. Jadi kesimpulannya, mereka salah fakta. Mereka sudah ramai-ramai ingin membubarkan FPI, ternyata salah fakta.

Begitu Munarman, Ustad Awit dan Ustad Khathath tampil di televisi, dengan debat terbuka dan kita ungkapkan fakta-faktanya, akhirnya mereka malu sendiri. Karena mereka malu, maka mereka lari ke berbagai peristiwa sebelumnya seperti insiden Monas. Sekarang semua film yang ditayangkan Metro TV, RCTI atau televisi swasta lainnya, itu peristiwa yang sudah diadili, sudah divonis dan pelakunya sudah dipenjara, artinya sudah inkracht dan sudah selesai. Tidak ada satu persoalan hukum yang diadili sampai dua kali. Kalau persoalan hukumnya telah selesai, kok televisi mengadili lagi. Pengadilan saja tidak berhak untuk mengadili lagi, apalagi televise. Jadi kesimpulannya, mereka kecelek.

Mengapa selama ini media massa terutama televisi dan koran selalu memojokkan FPI, bagaimana tanggapan Habib?

Kalau media massa memojokkan FPI, memang ada beberapa asumsi. Pertama, kelompok-kelompok yang memusuhi FPI adalah kelompok beruang seperti kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan kelompok politik. Meraka bisa dengan mudah untuk memberi siaran televisi. Jadi ini hanya persoalan duit, siapa yang bisa bayar itu yang mereka beritakan dengan senang hati.

Saya kasih contoh, pada saat Ustad Awit tampil di salah satu televisi dengan menyerahkan salah satu film ceramah Ribka Tjiptaning di Banyuwangi, mereka kita tantang untuk berani setel ini karena isinya soal PKI, ternyata mereka tidak berani. Adapun yang disetel lagi ribut-ributnya. Tetapi ceramah Ribka soal PKI di Banyuwangi selama 20 menit, kok tidak berani mereka setel. Apa karena FPI tidak bayar, kalau disuruh bayar nanti dulu. Tadi itu asumsi pertama, tetapi indikasinya kan kuat siapa punya duit bisa menguasai media massa.

Kedua, jangan lupa, hampir semua stasiun televisi tidak ada yang luput dari protes FPI. Hampir semua televisi pernah didemo oleh FPI. Biasalah, mungkin mereka tersinggung karena pernah didemo FPI. Jadi mereka enggan untuk menyiarkan berita-berita yang menurut mereka dapat mengangkat citra FPI. Jadi sepertinya ada sakit hati dan dendam kepada FPI yang pernah mendemo mereka. FPI tidak peduli kalau mereka salah kita demo. Metro TV, SCTV, RCTI dan Indosiar pernah kita demo, bahkan TVRI pernah kita demo. Televisi mana yang tidak pernah kita demo. FPI tidak peduli mendemo televisi, yang penting kalau salah ya kita protes. FPI tidak peduli apakah beritanya akan dimuat atau tidak dimuat di televisi. Itu asumsi kedua, artinya indikasinya kan ada.

Ketiga, ini yang paling kuat. Sesuai dengan dokumen Rand Corporation, disitu ditulis donasi-donasi AS dan sekutunya memang berupaya dengan segala kekuatan finansialnya untuk membeli media massa. Paling tidak, kalau tidak beli ya mereka kuasai. Itu memang ada dalam Rand Corporation, itu artinya terperinci betul. Adapun yang menarik disitu juga disebutkan, kalau ada perbuatan-perbuatan yang menaikkan citra yang dilakukan kelompok Islam manapun tidak boleh dimuat. Bukan hanya FPI, tetapi kelompok Islam manapun. Sebaliknya, kalau ada perbuatan-perbuatan yang sekiranya dapat menurunkan citra kelompok Islam, maka harus dimuat dan harus diulang-ulang.

Makanya jangan kaget, kita bisa lihat acara di Metro TV dan SCTV, peristiwa penyerangan tempat biliar yang dijadikan ajang judi oleh laskar FPI tahun 2002 atau sudah 8 tahun lalu. Tetapi film itu selalu diulang, kadang-kadang kalau diulang seperti peristiwa Banyuwangi filmnya selalu diulang. Berarti apa yang dilakukan SCTV dan Metro TV serta beberapa televisi lain sesuai dengan dokumen Rand Corporation. Bukan saya mencoba mengkait-kaitkan, tetapi faktanya memang begitu.

Apa isi dokumen Rand Corporation?

Dalam dokumen itu juga disebutkan, kalau kelompok-kelompok Islam yang mereka anggap sebagai musuh, kalau menyebutkan identitas cukup nama saja, tidak perlu disebut titelnya seperti Prof Dr dan sebagainya. Kalau Kyai Haji dan Habib jangan disebut KH dan Habibnya. Kalau Ustad jangan disebut ustadnya, pokoknya disebut namanya saja. Tetapi sebaliknya, kalau kelompok yang mendukung mereka harus disebut dengan lengkap titelnya, seperti Prof, Dr, PhD, MA, MSc dan sebagainya, itu tertulis dalam dokumen Rand Corporation. Jadi dengan demikian, ini memang grand design mereka. Jadi tidak perlu kaget dan ini tidak akan menjadi yang terakhir. Besok pasti mereka akan mencari lagi momentum untuk membubarkan FPI, dan itu akan terus berlangsung sampai mereka berhasil membubarkan FPI. Kita harapkan sekarang gerakan Islam semakin merapatkan barisan dan memperkokoh ukhuwan Islamiyah, karena sebetulnya yang ditarget itu bukan hanya FPI saja tetapi semua gerakan Islam. Mungkin FPI dianggap sebagai pintu gerbangnya untuk dibobol terlebih dahulu.

Apa kerugian yang akan dialami bangsa Indonesia seandainya FPI sampai dibubarkan?

Secara pribadi kalau FPI dibubarkan tidak ada masalah. Kalau hari ini Front Pembela Islam dibubarkan, maka besok akan saya bikin Front Pecinta Islam. Dengan singkatan yang sama, pengurus yang sama, gerakan yang sama dan wajah yang sama pula, kan UU tidak melarang. Jadi saya tidak pernah pusing dengan pembubaran. Nanti kalau Front Pecinta Islam juga dibubarkan, maka akan saya bentuk Front Penyelamat Islam. Jadi mengapa pusing-pusing, saya tidak pernah pusing mengenai pembubaran ini, tidur saya tetap nyenyak.

Jadi saya bicara pribadi, artinya yang ingin saya tekankan, ada FPI atau tidak ada FPI amar makruf nahi mungkar tetap wajib dijalankan. Ada FPI atau tidak ada FPI, perjuangan para kader FPI yang ada dimana saja tetap berjalan. Artinya, saya dan kawan-kawan yang ada di FPI tidak pernah menjadikan FPI sebagai tujuan perjuangan. Kita selalu mengingatkan, FPI cuma kendaraan. Jadi kalau kendaraan ini rusak ditengah jalau atau dibakar orang atau dicuri orang atau kendaraan terbalik dan tidak bisa dipakai lagi, kita ganti kendaraan yang lain. Kenapa susah-susah amat karena FPI bukan tujuan. Tujuan kita hanya mencari ridha Allah, tujuan kita liilai kalimatillah subhanahu wa taala. Jadi bukan tujuan kita mencitrakan FPI, membaguskan FPI, membesarkan FPI. Itu hanya proses perjuangan, tujuannya liilai kalimatillah subhanahu wa taala.

Itu yang secara pribadi saya melihat wacana pembubaran FPI, bahkan saya katakan bukan wacana lagi. Sebab ini sudah merupakan gerakan sistimatis yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk membubarkan FPI. Tetapi memang kalau kita bicara secara umum buat masyarakat kasihan. Kalau ormas Islam bukan hanya FPI yang concern terhadap amar makruf nahi mungkar terhadap penegakan keadilan melawan kedholiman. Kalau yang seperti ini sampai dibubarkan, kasihan umat Islam itu sendiri. Artinya kekuatan mereka semakin lemah, kekuatan pembelaan mereka semakin surut. Bahkan kita khawatirkan begitu ada ormas Islam semacam FPI yang dibubarkan, jangan-jangan nanti ada masyarakat yang takut untuk berjuang. Itu yang kita khawatirkan. Artinya mereka nanti akan menjadikan proyek percontohan. Jangan keras-keras, nanti nasibnya akan seperti FPI. Nanti kita jadi takut melawan kedholiman, kemungkaran, mafia, bajingan dan takut melawan okum pejabat yang bejat akhlaknya, ini berbahaya. Jadi kalau ada pembubaran suatu ormas Islam, ini kan melemahkan semangat juang umat Islam Indonesia. Walaupun secara pribadi kita tidak akan kendor, walaupun dibubarkan sepuluh kalipun kita tetap akan berjuang. Tetapi umat yang awam kan tidak begitu fikirannya.

Jadi kalau FPI dibubarkan, berarti akan mengulang sejarah ketika Soekarno meminta Masyumi membubarkan diri atau dibubarkan tahun 1960 lalu?

Kalau kita kembali kepada sejarah Sukarno, ini kan sejarah yang sangat ironis. Tatkala Masyumi dituduh terlibat dalam PRRI, ini kan tuduhan dan firtnah, Masyumi kemudian dibubarkan. Tetapi begitu PKI yang nyata-nyata berkhianat, Sukarno tidak membubarkannya. Ini fakta sejarah, ada apa ? Seharusnya Sukarno bersikap adil. Kalau Masyumi dibubarkan, PKI yang terlibat pemberontakan G30S seharusnya dibubarkan. Ini lebih berbahaya, tetapi nyatanya tidak dibubarkan Sukarno.

Sejak zaman kemerdekaan, terjadi pergulatan apakah itu ideologi, pertempuran fisik antara kelompok Islam dengan sekuler. Jadi kelompok sekuler ini memang selalu ingin menang sendiri. Jadi segala yang jelek dari sekuler mereka maklumi, tetapi apapun yang kelihatannya jelek dari kelompok Islam, kalaupun tidak jelek mereka jelek-jelekkan. Itu akan dijadikan mereka alasan untuk penghancuran.

Sekarang kalau kita bicara soal pembubaran, kita lihat alasannya. Apa alasan mereka ingin membubarkan FPI, karena FPI melakukan sejumlah kekerasan. Saya tidak ingin membela diri. Katakanlah benar FPI melakuan kekerasan, itupun kekerasan harus kita diskusikan dulu. Apa betul itu kekerasan, apa betul itu kekerasan struktural yang dilakukan secara organisatoris atau bagaimana. Itu masih perlu diskusi dan pembuktian dulu, andaikata FPI dituduh keras dan musti dibubarkan. Pertanyaan kita, bagaimana dengan berbagai kekerasan yang dilakukan partai politik. Berbagai pilkada di daerah sejak reformasi hingga sekarang ini selalu diwarnai kekerasan. Ada pembunuhan, pembakaran gedung pemerintana, pembakaran mobil, pembakaran pom bensin, luar biasa. Itu yang tidak pernah dilakukan FPI. FPI tidak pernah bakar gedung pemerintah, FPI tidak pernah membunuh Ketua DPRD, ini kan massa partai.

Kalau FPI dibubarkan, Parpol harus juga dibubarkan?

Jadi kalau massa FPI melakukan kekerasan FPI nya harus dibubarkan, maka logikanya kalau massa partai melakuan kekerasan, maka partainya harus juga dibubarkan. Sekarang massa PDIP, PKB dan Demokrat melakukan kekerasan. Kalau begitu PDIP, PKB dan Demokrat harus dibubarkan. Ini kalau kita memakai logika pembubaran. Jadi tidaklah adil jika ada massa FPI melakukan kekerasan maka FPI dibubarkan. Tetapi kalau massa partai yang melakukan kekerasan, partainya tidak dibubarkan, enak betul ! Memang yang punya negara ini partai ! Kekerasan yang dilakukan massa partai lebih dahsyat, lebih keras bahkan biadab. Masak Ketua DPRD Sumatera Utara sampai dibunuh di dalam Gedung DPRD. Pembakaran gedung kabupaten seperti di Tuban dan pembakaran mobil di Mojokerto. Apa ada aksi FPI semacam itu. Apa ada massa FPI seperti itu. FPI paling-paling memakai pentungan. Adapun yang dirusak cuma kaca biliar dan tidak lebih dari itu. Ini kalau kita bicara fakta. Kalau pemerintah ingin membubarkan FPI, maka PDIP, PKB, Demokrat dan Golkar juga dibubarkan, jadi sama-sama bubar, termasuk negara ini juga bubar.

Selama ini kelompok liberal ingin membenturkan FPI dengan massa Gus Dur dan sekarang PDIP, tetapi usaha mereka selalu gagal?

Kelompok liberal ini tidak mempunyai massa, tidak mempunyai grass-roots. Mereka antek Barat dan hanya mampu membuat LSM-LSM komprador. Mereka dibantu dengan bantuan asing, ini mereka sendiri yang mengakuinya. Kalau kita ingin bicara jujur, FPI ingin dibubarkan karena melangar UU No. 8 Tahun 1985 tentang Keormasan. Sekarang salah satu larangan dalam UU Keormasan adalah menerima bantua luar negeri atau asing. LSM yang dibuat kelompok liberal, semuanya menerima bantuan asing. Bubarkan meraka dulu, FPI sudah siap untuk dibubarkan. Jadi kita bubar-bubaran, mereka ini tidak bercermin. Jadi kalau ada pepatah mengatakan kuman disebarang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Kesalahan FPI yang kecil jauh mereka lihat, tetapi kesalahan mereka yang besar dalam diri mereka sendiri, tidak mereka lihat.

Kelompok liberal memang tidak punya massa. Masyarakat mana yang mau jadi antek asing. Serendah-rendahnya pendidikan, pemikiran, status sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia, secara umum mereka masih mempunyai ras cinta tanah air, cinta bangsa dan negara. Mereka tidak mau menjual negaranya untuk orang asing. Sehingga kelompok liberal tidak mendapatkan tempat di tengah masyarakat dan mereka tidak mempunyai kekuatan grass-roots. Adapun yang mempunyai kekuatan grass-roots di Indopnesia seperti NU dan Muhammadiyah. Kalau partai politik seperti PDIP yang mengakar ke bawah.

Kelompok liberal melihat FPI sebagai ancaman dan FPI mempunyai kekuatan grass-roots kebawah. Bagaimana cara untuk menghadapi FPI, mereka berusaha untuk menunganggi NU tetapi tidka berhasil. Karena waktu itu Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, beliau dikenal orang baik, cerdas dan tidak bisa ditunggangi oleh Ulil dan kawan-kawan. Karena itu ketika tersiar kabar di beberapa daerah terjadi konflik antara massa FPI dengan NU, KH Hasyim Muzadi langsung klarifikasi. Itu ternyata bukan NU, tetapi massa preman yang dibayar suatu kelompok dan dipakaikan baju NU. Akhirnya kebongkar semua dan mereka cuma ingin mengadu domba.

Dikabarkan ada seorang tokoh yang kirim Banser palsu ke Pengadilan, tetapi ternyata itu preman yang diberi baju Banser. Padahala Banser sendiri tidak tahu menahu. Berbagai cara kotor seperti ini dilakukan kelompok liberal. Karena Gus Dur sudah meninggal dunia dan mereka menunganggi NU sudah tidak ada pintunya, maka sekarang mereka mencoba menunganggi PDIP. Kebetulan ada kasus Banyuwangi PDIP sedang marah, maka masuk Ulil ngipasin PDIP. Kebetulan Ulil pengurus Partai Demokrat. Maka kita sampaikan informasi itu ke PDIP, apa anda mau ditunganggi sama Partai Demokrat dan diadu dengan FPI, sehingga PDIP jadi mawas diri.

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/bincang/habib-rizieq-syihab-ada-empat-kelompok-yang-berkonspirasi-ingin-membubarkan-fpi.htm

Categories: Kabar Berita

Blog Pertamaku

Hanya Bermodal Keinginan Yang Kuat !, itulah yang mesti terucap dari mulut ini, betapa tidak ! karena saya sudah bergulat di dunia internet lama sekali.  sudah searching kemana mana, dan paling tidak sudah tahu dunia maya itu seperti apa. Walaupun tidak semahir yang orang bayangkan, paling tidak sudah “Mampu” untuk berinternet ria, He he he…. Waktu boomingnya blog dulu, keinginan kuat buat blog pun sangat kuat, akhirnya saya searching  bagaimana langkah langkah buat blog, terus membandingkan antara wordpress dan blog  dimana letak keunggulan dan kelemahan masing-masing. setelah cukup informasi yang didapat akhirnya saya buat blog, waktu itu  saya buat kedua-duanya, tanpa memperdulikan mana yang  lebih unggul. Maklum masih newbie sekedar ingin tahu, bagaimana merasakan buat blog itu, tapi diawal-awalnya aja saya mengebu-gebu, habis itu down, kagak saya teruskan, karena tidak ada keinginan kuat untuk berngeblog ria, merasa tidak bisa buat sebuah artikel atau posting artikel jadi berantakan, dunia blog sudah tidak aku reken (jawa)/tidak saya perhatikan lagi. Tapi akhi-akhir ini keinginan untuk ngeblog kok mengelayut dalam hati dan akhirnya aku putuskan buat blog di wordpress, lepas dari membandingkan mana blog yang menurut saya baik. Yang ada dalam benak saya adalah saya bisa NGEBLOG. Ya Hanya Bermodal Keinginan Yang Kuat ! untuk ngeblog  akhirnya blog ddsyah.wordpress.com pun jadi.

Keinginan penulis agar blog ini bisa terupdate secara berkesinambungan dan menghadirkan artikel-artikel yang up to date.

Penulis tidak lelah untuk terus mengasah kemampuan demi kelangsungan blog ini. Untuk para master master mohon bimbingannya..karena tanpa belajar dari anda anda  niscaya penulis bukanlah siapa-siapa/orang yang gaptek..

Karena penulis bisa ngebloh karena pencerahan para blogger di artikel artikel yang bertebaran di dunia maya ini. jadi untuk semua blogger terima kasih untuk dedikasi anda dalam dunia blogger. Tanpa anda dunia blogger tidak ada.

Kemampuan tanpa keinginan bukanlah keberhasilan, dengan kemampuan dan keinginan keberhasilan bisa diraih. Belum punya kemampuan tapi punya keinginan untuk berusaha maka kemampuan itu dengan sendirinya kan terisi.

Categories: Coretan Hati
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.